Aceh Besar – Langit Desa Lubok Batee, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar, tampak mendung pada Senin (28/9/2026). Cuaca yang kurang bersahabat tak menyurutkan langkah warga untuk menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah/2026 M.
Dari orang dewasa, remaja, hingga anak-anak, mereka datang berduyun-duyun mengikuti kegiatan yang digelar melalui Majelis Dakwah Islamiah tersebut. Peringatan Maulid kali ini mengangkat tema “Meneladani Akhlak Nabi Muhammad SAW untuk Mewujudkan Generasi yang Beriman dan Berakhlak Mulia.”
Suasana khidmat terasa sejak acara dimulai. Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan Tgk. Ahmad Fathir menggema di tengah masyarakat. Bacaan tersebut kemudian disambung dengan selawat kepada Rasulullah SAW yang dilantunkan secara bersama-sama.
Peringatan Maulid tidak hanya menjadi ruang untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi momentum bagi masyarakat untuk kembali mengingat nilai-nilai kehidupan yang diajarkan Nabi, terutama keikhlasan, kesabaran, kejujuran, dan kemuliaan akhlak.
Puncak kegiatan diisi dengan tausiah agama yang disampaikan penceramah asal Aceh Selatan, Tgk. Ismail. Dalam ceramahnya, ia mengajak masyarakat menjadikan kehidupan dan akhlak Rasulullah SAW sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Menurut Tgk. Ismail, keikhlasan merupakan salah satu pemberian Allah kepada hamba-Nya. Keikhlasan harus dilatih dalam setiap amal, termasuk dalam menjalankan ibadah.
Ia mengingatkan masyarakat agar setiap ibadah maupun kebaikan tidak dilakukan semata-mata untuk mendapatkan pengakuan manusia.
“Jangan kita berjamaah ke masjid karena dilihat orang, tetapi karena Allah,” pesannya.
Ia memberikan gambaran sederhana tentang makna ikhlas. Ketika seseorang membantu orang lain, misalnya bersedekah atau menolong orang di jalan, kebaikan itu hendaknya dilakukan karena Allah menyukai perbuatan tersebut, bukan karena mengharapkan balasan dari orang yang dibantu.
“Ketika dia tidak membantu kita nanti, kita tidak jadi masalah,” ujarnya.
Tgk. Ismail juga mengajak jamaah memahami bahwa mengikuti akhlak Rasulullah SAW tidak cukup hanya dengan mengagumi sosok Nabi. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah membersihkan hati dari berbagai penyakit hati.
“Kenapa Allah memilih Baginda Rasulullah? Karena Nabi Muhammad hatinya lebih bening dari salju. Kita ingin mengikuti akhlakul karimah Nabi, yang harus kita lakukan adalah membersihkan hati dari penyakit hati,” katanya.
Ia mengakui setiap manusia memiliki sifat dan kecenderungan masing-masing. Namun, sifat yang kurang baik harus mampu dikendalikan agar tidak menguasai diri.
Selain keikhlasan, kesabaran juga menjadi pesan penting dalam ceramah tersebut. Kesabaran, katanya, harus diterapkan bukan hanya dalam menghadapi persoalan besar, tetapi juga dalam kehidupan keluarga dan bermasyarakat.
Dalam ceramahnya, Tgk. Ismail turut mengingatkan masyarakat tentang hubungan antara kekayaan, rasa syukur, dan tanggung jawab di hadapan Allah. Ia mengisahkan bagaimana pada masa Rasulullah SAW, masyarakat pernah mempertanyakan keadaan orang-orang kaya yang memiliki kesempatan lebih besar untuk bersedekah.
Rasulullah SAW kemudian mengajarkan amalan zikir berupa tasbih, tahmid, dan takbir sebagai salah satu bentuk ibadah yang dapat dilakukan semua kalangan.
Pesan tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang di hadapan Allah bukan semata-mata ditentukan oleh banyaknya harta.
Orang kaya memiliki kewajiban untuk bersyukur, sementara orang yang tidak memiliki banyak harta dituntut untuk bersabar. Kekayaan pun kelak memiliki pertanggungjawaban tersendiri, termasuk dari mana harta diperoleh dan untuk apa digunakan.
“Membangun generasi yang kuat tidak hanya cukup dengan ilmu pengetahuan, tetapi harus berlandaskan iman dan akhlakul karimah. Meneladani sifat jujur, santun, dan keteguhan iman Nabi Muhammad SAW adalah benteng utama bagi kaum muda di tengah tantangan zaman,” tegas Tgk. Ismail di hadapan masyarakat Lubok Batee.
Kemeriahan peringatan Maulid kemudian semakin terasa dengan penampilan anak-anak. Para anak perempuan membawakan tarian, sementara anak-anak laki-laki tampil dengan rapai. Penampilan tersebut menjadi hiburan sekaligus memberi ruang bagi generasi muda untuk terlibat langsung dalam kegiatan keagamaan dan kebersamaan masyarakat.
Bagi masyarakat Lubok Batee, peringatan Maulid menjadi lebih dari sekadar agenda tahunan. Di tengah suasana mendung, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk berkumpul, berselawat, mendengarkan nasihat agama, sekaligus mengingat kembali pentingnya menghadirkan akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui syiar dakwah tersebut, masyarakat diharapkan tidak berhenti pada perayaan Maulid secara seremonial. Nilai-nilai kenabian diharapkan dapat terus dibumikan dalam keluarga, lingkungan, dan kehidupan bermasyarakat, sehingga tumbuh generasi yang beriman, bertakwa, sabar, ikhlas, dan berakhlak mulia.
Editor: Redaksi























