BANDA ACEH — Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, menegaskan bahwa penanganan masalah persampahan di ibu kota Aceh tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata. Pernyataan tersebut disampaikannya saat meninjau langsung tiga lokasi Waste Collection Point (WCP) yang beroperasi di Kota Banda Aceh, Jumat (2/10/2026).
Dalam kunjungan kerja tersebut, Wali Kota Illiza melihat langsung kegiatan pemilahan sampah yang dilakukan di masing-masing titik WCP. Ia menyambut baik antusiasme masyarakat yang terlibat aktif, terutama peran strategis kaum perempuan dalam menjalankan sistem pemilahan sampah dari sumbernya.
Di setiap lokasi, sampah rumah tangga dipilah menjadi tiga kategori utama, yaitu sampah organik, sampah nonorganik, dan residu. Sampah organik yang terkumpul kemudian diolah secara mandiri di depo WCP menjadi pupuk kompos, yang selanjutnya dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan berkebun warga dan kelompok tani di sekitar kawasan tersebut.
Illiza menegaskan bahwa pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan memerlukan partisipasi menyeluruh dari berbagai unsur masyarakat:
“Dengan semangat Banda Aceh Kota Kolaborasi, saya yakin persoalan sampah dapat kita atasi apabila seluruh unsur bergerak bersama. Pemerintah menyediakan kebijakan dan fasilitas, masyarakat membangun budaya disiplin, dunia usaha berpartisipasi, dan komunitas menjadi penggerak di lapangan,” ujar Illiza.
Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya diukur dari berkurangnya volume sampah yang dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), melainkan tumbuhnya kesadaran kolektif untuk mengurangi, memilah, dan memanfaatkan sampah sejak dari rumah masing-masing.
Program pengolahan sampah organik menjadi kompos di fasilitas WCP bukan sekadar upaya mengurangi tumpukan sampah, melainkan menciptakan nilai ekonomi dan ekologis dari apa yang selama ini dianggap limbah. Kompos yang dihasilkan telah dimanfaatkan oleh Kelompok Wanita Tani dan warga sekitar untuk menyuburkan kebun gampong dan lahan pertanian warga.
Diharapkan, kesadaran untuk memilah sampah dari rumah tangga terus tumbuh dan meluas di seluruh penjuru Kota Banda Aceh. Dengan partisipasi yang semakin luas, Banda Aceh bukan hanya menjadi kota yang bersih dan rapi, tetapi juga kota yang hijau, sehat, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.(**)
Editor: Redaksi






















