Home / Nasional

Minggu, 25 Desember 2022 - 20:48 WIB

Feri Rusdiono : Pemimpin Jangan Seperti Robot Dan Tak Punya Hati Nurani

REDAKSI - Penulis Berita

Feri Rusdiono
Jurnalis Senior. (Ist)

Feri Rusdiono Jurnalis Senior. (Ist)

OPINI – Polemik kasus meninggalnya sejumlah anak kecil akibat gagal ginjal akut yang diduga disebabkan setelah penggunaan obat sirup tertentu muncul di ruang publik.

Menurut catatan saya, belum ada pihak menyatakan pesan komunikasi secara definitif bahwa pihaknya yang paling bertanggung jawab atas kejadian luar biasa tersebut. Mengapa?

Bisa saja terjadi, ketika kewenangan/peran seolah “berlomba-lomba” untuk memperolehnya karena di sana ada “manisan”.
Bahkan tidak jarang terjadi tumpang tindih kewenangan/peran untuk ikut mencicipi “manisan” tersebut.

Namun bila tiba ada “pahit-an-nya,” (masalah pelik), misalnya tidak sedikit anak kecil mendahului kita untuk selamanya, yang diduga setelah mengkonsumsi obat sirup tertentu, sampai saat ini belum ada yang “berlomba-lomba” menyampaikan pesan komunikasi ke ruang publik bahwa pihaknya yang paling bertanggung jawab.

Padahal, jelas negara menyediakan kementerian dan badan yang salah satu fungsinya melakukan pengawasan.

Pemimpin original, sejati dan benar harus selalu berpihak kepada publik dan tidak boleh berlindung di balik aturan normatif, harus berani membuat trobosan asal untuk keselamatan kemanusiaan.

Karena itu, jika ada aturan atau kebijakan yang dibuat oleh pejabat lain sekalipun itu atasanya, yang kemungkinan kelak bisa berdampak serius atau menimbulkan tragedi kemanusiaan sebagai konsekuensi implementasi aturan tersebut, harusnya orang yang bersangkutan wajib baginya secara moral dan etis berjuang agar aturan tersebut dicabut, paling tidak direvisi bagian tertentu.

Jika tidak berhasil, sangat tepat orang yang bersangkutan menyatakan mundur dari jabatannya lebih awal sebelum terjadi peristiwa kemanusiaan yang memilukan.

Sebab, jabatan itu amanah, bukan seolah dipertahankan dengan berlindung di balik aturan normatif, termasuk yang dikeluarkan oleh pejabat lain sekalipun itu atasanya.

Jika tidak mundur di tengah tragedi kemanusiaan, pejabat tersebut layak disebut manusia normatif yang berperan mekanistis, persis pola kerja robot.

Kepadanya sulit diminta tanggung jawab atas dasar pertimbangan kemanusiaan. Sebab, pemimpin “robot” selalu bekerja berdasarkan stimulus-respon yang jauh dari nilai humanis.

Jakarta,25 Desember 2022
Feri Rusdiono
Jurnalis Senior

Editor: Dima/Atin

Share :

Baca Juga

Daerah

Berantas Narkoba, Sembilan Narapidana LP Kalianda Dipindahkan ke Nusakambangan

Nasional

Calon Bupati Yang Takut “Ditelikung Wakil”, Memiliki Peluang Akan Berkuasa Dengan Otoriter

Nasional

STOP PERS

Daerah

Miris Prapora III Futsal 2021,AFA Akan Digugat Ke Baori

Nasional

Menderita Lumpuh selama 5 Tahun, Haji Uma Pulangkan ke kampung Halaman di Aceh

Nasional

Pesawat Susi Air PK-BVM Kecelakaan, Kru dan Penumpang Selama

Nasional

Banjir Terjadi Di Kabupaten Sidenreng Rappang, Provinsi Sulawesi Selatan

Nasional

Kominfo Perkuat Pertumbuhan Ekonomi Digital Perdesaaan