Hentikan Cara Baru Menyakiti Aceh
BELAKANGAN ini semakin banyak orang berbicara tentang Aceh. Ironisnya, sebagian besar berbicara tanpa pengetahuan yang memadai, tanpa memahami sejarahnya, tanpa mengerti luka kolektifnya, dan tanpa pernah merasakan beban pengorbanan yang telah ditanggung rakyat Aceh selama berabad-abad.
Mereka datang dengan opini, komentar, dan penilaian yang dangkal dan pikiran sempit. Mereka merasa cukup hanya dengan membaca potongan berita, menonton video pendek, atau mendengar narasi sepihak. Lalu dengan percaya diri menghakimi Aceh dan rakyatnya. Sungguh tak berkeadaban.
Padahal dalam ilmu sosial modern terdapat konsep historical consciousness atau kesadaran sejarah. Seseorang tidak akan mampu memahami perilaku politik, sikap sosial, dan identitas suatu masyarakat tanpa memahami perjalanan sejarah yang membentuknya.
Aceh bukan sekadar sebuah provinsi administratif di ujung Sumatra.
Aceh adalah entitas politik, sosial, dan peradaban yang telah berdiri jauh sebelum Indonesia lahir. Aceh memiliki sejarah kenegaraan, diplomasi internasional, sistem hukum, pendidikan, perdagangan global, dan tradisi pemerintahan yang telah eksis ketika sebagian besar wilayah Nusantara masih berada dalam cengkeraman kolonialisme.
Karena itu, membicarakan Aceh tanpa memahami sejarahnya adalah bentuk kebodohan yang dipertontonkan secara terbuka.
Lebih menyakitkan lagi ketika ada pihak-pihak yang mencoba menghapus fakta sejarah, mengecilkan kontribusi dan pengorbanan Aceh terhadap Republik ini, atau bahkan memperlakukan Aceh seolah-olah tidak memiliki hak untuk berbicara tentang masa lalunya sendiri atau bahkan untuk masa depannya.
Mereka lupa bahwa republik ini lahir bukan hanya dari teks proklamasi, tetapi juga dari pengorbanan daerah-daerah yang memilih bergabung dengan Indonesia atas dasar kepercayaan dan harapan.
Dalam perspektif teori Social Contract yang dikembangkan oleh John Locke hingga Jean-Jacques Rousseau, sebuah kesepakatan politik hanya akan bertahan jika semua pihak menjaga komitmen dan saling menghormati martabat masing-masing. Hubungan Aceh dengan Indonesia juga harus dipahami dalam kerangka itu.
Kesediaan Aceh menjadi bagian dari Indonesia adalah bentuk komitmen politik yang lahir dari semangat persaudaraan kebangsaan. Namun komitmen hanya dapat bertahan jika tidak ada pengkhianatan terhadap janji, penghormatan terhadap sejarah, dan penghargaan terhadap identitas.
Yang sangat disayangkan, hari ini muncul generasi baru penjilat kekuasaan yang rela mengorbankan kebenaran demi tepuk tangan politik.
Mereka tidak mencari fakta.
Mereka tidak menghormati sejarah. Mereka hanya mencari panggung.
Mereka berbicara tentang Aceh dengan nada menggurui, seolah-olah memahami semuanya, padahal mereka bahkan tidak mengenal luka yang ditinggalkan perang, konflik, diskriminasi, dan berbagai episode panjang ketidakadilan yang pernah dialami rakyat Aceh.
Dalam teori Collective Memory yang dikembangkan Maurice Halbwachs, sebuah masyarakat tidak pernah benar-benar melupakan pengalaman sejarah yang membentuk identitasnya. Luka dapat sembuh, tetapi ingatan tidak pernah hilang.
Aceh telah memilih jalan damai.
Aceh telah menunjukkan kedewasaan politik.
Aceh telah membuktikan komitmen terhadap Indonesia.
Tetapi jangan pernah salah mengartikan kedewasaan Aceh sebagai kelemahan.
Jangan menganggap kesabaran sebagai ketakutan. Dan jangan menganggap diamnya rakyat Aceh sebagai tanda bahwa mereka kehilangan harga diri.
Aceh tidak meminta penghargaan berlebihan.
Aceh tidak meminta dipuja.
Dan Aceh tidak meminta diberi keistimewaan di atas daerah lain.
Yang Rakyat Aceh minta sangat sederhana :
Hormati sejarah kami.
Hormati pengorbanan kami.
Hormati martabat kami. Dan Jika tidak untuk mampu menghormati, setidaknya jangan menyakiti.
Sebab terlalu banyak darah, air mata, dan pengorbanan yang telah tertanam dalam tanah ini untuk kemudian dihina oleh orang-orang yang bahkan tidak memahami apa yang mereka bicarakan.
Aceh tidak membutuhkan pengakuan dari mereka yang buta sejarah.
Tetapi bangsa ini membutuhkan kejujuran sejarah agar tidak terus menerus melahirkan generasi yang merasa paling tahu padahal paling tidak memahami.
Karena itu, sebagai ilmuwan dan pembelajar ilmu politik, saya ingin mengingatkan :
Jangan bicara tentang Aceh jika hanya bermodal asumsi. Jangan menilai Aceh jika tidak memahami sejarahnya. Jangan menghakimi Aceh jika tidak pernah merasakan penderitaan yang pernah dialami rakyatnya.
Sebab kebodohan yang paling berbahaya bukanlah tidak tahu. Melainkan merasa paling tahu atas sesuatu yang sebenarnya tidak dipahaminya sama sekali. Camkanlah !!! (**)
Editor: Redaksi





















