BANDA ACEH — Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Zulfadhli (Abang Samalanga), memberikan apresiasi tinggi sekaligus melontarkan keprihatinan mendalam atas keberhasilan Polda Aceh membongkar kasus peredaran narkotika skala besar yang menyasar generasi muda melalui modus baru rokok elektrik (vape).
Zulfadhli menegaskan, pengungkapan kasus ini harus menjadi momentum bagi aparat penegak hukum untuk tidak hanya menyasar kurir di lapangan, melainkan memburu seluruh jaringan, pengendali, pemodal, hingga bandar utamanya.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan Zulfadhli menanggapi pengungkapan kasus oleh Polda Aceh yang menyita barang bukti berupa 2.637 pcs cartridge (vape getar), 4.000 ml liquid mengandung etomidate, 5.000 butir ekstasi, dan 569,35 gram sabu, Senin (10/8/2026).
Peringatan Keras: “Ini Soal Menyelamatkan Masa Depan Aceh”
Pria yang akrab disapa Abang Samalanga ini menilai, ditemukannya narkotika dalam kemasan dan perangkat modern seperti vape merupakan alarm bahaya bagi seluruh elemen masyarakat Aceh. Menurutnya, modus baru ini sengaja dirancang untuk meracuni anak-anak muda, termasuk pelajar, mahasiswa, hingga santri.
“Ini bukan sekadar persoalan menangkap pelaku. Ini adalah persoalan menyelamatkan masa depan Aceh. Modus peredaran narkotika terus berkembang dan kini menyasar pengguna melalui kemasan yang lebih modern seperti vape,” ujar Zulfadhli.
Ia menolak keras Aceh dijadikan pasar empuk bagi para penyebar barang haram tersebut.
Sikat Bandar dan Pemodal, Jangan Berhenti di Kurir
Secara khusus, Ketua DPRA meminta kepolisian menelusuri aliran peredaran hingga ke tingkat paling atas. Bagi Zulfadhli, penangkapan kurir tidak akan pernah menyelesaikan akar masalah selama aktor intelektual dan pemodal di belakangan layar masih bebas berkeliaran.
“Kurir bisa berganti, pengguna bisa bertambah, tetapi jika bandar dan sumber peredarannya tidak diputus, persoalan tidak akan pernah selesai,” tegasnya.
Zulfadhli juga mengecam keras para bandar narkoba yang meraup keuntungan pribadi dengan mengorbankan masa depan generasi penerus Aceh.
“Bandar narkoba mungkin menghitung keuntungan dari setiap gram yang mereka jual, tetapi kita menghitung berapa banyak masa depan anak Aceh yang sedang mereka hancurkan. Karena itu, mari kita hentikan mata rantai tersebut. Tangkap bandarnya, putus jaringannya, selamatkan generasinya,” kata Zulfadhli.
Komitmen DPRA: Satu Sikap Tanpa Kompromi
Di akhir keterangannya, Zulfadhli menegaskan komitmen penuh DPRA dalam mendukung seluruh langkah penegakan hukum yang diambil oleh Polda Aceh. Ia memastikan lembaga legislatif berada di barisan terdepan untuk menjaga Aceh tetap bersih dari ancaman narkotika.
”Dalam memerangi narkoba kita harus satu sikap, tidak boleh ada kompromi. Aceh tidak boleh menjadi pasar narkoba. Aceh harus menjadi tempat tumbuhnya generasi yang sehat, cerdas, dan bermartabat,” tutup Zulfadhli.(**)
Editor: Redaksi
























