BANDA ACEH — Sebanyak 30 siswa-siswi SMA sederajat se-Kota Banda Aceh mengikuti pelatihan penulisan kreatif bertajuk “Penulisan Cerpen bagi Siswa SMA Sederajat se-Kota Banda Aceh”, yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Aceh, Senin (14/9/2026). Kegiatan ini menjadi ruang istimewa bagi para pelajar untuk mengasah kreativitas, menuangkan gagasan, serta menghasilkan karya cerpen yang tidak hanya indah secara sastra, tetapi juga relevan dengan dunia pendidikan dan kehidupan sosial masyarakat.
Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, S.Pd., MSP., hadir secara langsung untuk membuka kegiatan tersebut. Dalam arahannya, beliau menegaskan bahwa budaya menulis adalah fondasi utama yang menjaga dan mengabadikan peradaban manusia.
“Peradaban kita dapat diketahui karena adanya budaya menulis. Kita tidak akan mendapatkan literatur sejarah dan berbagai catatan masa lalu jika budaya menulis tidak ada. Sesungguhnya, menulis itu adalah mengabadikan,” ujarnya tegas.
Murthalamuddin mendorong para peserta agar tidak sekadar menyusun cerita biasa, melainkan menghadirkan karya yang bermakna, berkesan, dan mampu memberikan pengaruh nyata bagi para pembacanya. Tulisan yang baik, kata beliau, mampu menggambarkan peristiwa dengan jelas sehingga pembaca seolah melihat dan merasakan sendiri apa yang diceritakan.
“Cerpen itu harus bisa mendeskripsikan sesuatu sehingga orang dapat membayangkannya dengan baik. Tulisan yang bagus juga harus punya dampak, punya pengaruh terhadap apa yang kita tulis,” pesannya.
Beliau juga mengingatkan pentingnya memperbanyak membaca serta menggali beragam referensi agar karya yang dihasilkan memiliki ciri khas, kedalaman, dan warna tersendiri. Khususnya, Murthalamuddin mengajak para siswa menjadikan sejarah serta tokoh-tokoh besar Aceh sebagai sumber inspirasi utama.
Salah satu contoh yang disampaikan adalah kisah Laksamana Malahayati — sosok panglima perempuan Aceh yang dikenal gagah berani dan berjiwa besar, namun kisahnya belum banyak tertulis dan dikenal luas.
“Cari referensi dan terus bertanya agar kalian bisa menulis lebih luas. Saat ini masih sedikit orang yang mampu mengaktualisasikan pikirannya dalam tulisan yang bermanfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.
Di akhir penyampaiannya, Kadisdik Aceh berharap kegiatan ini melahirkan generasi penulis muda Aceh yang peka, kreatif, dan cinta terhadap tanah air — generasi yang mampu menuliskan kisah keagungan, perjuangan, serta kearifan Aceh agar tidak hilang ditelan zaman, melainkan menjadi warisan yang terus dinikmati dan dijadikan teladan bagi generasi mendatang. (**)
Editor: Redaksi
























