BANDA ACEH — Masyarakat diminta makin waspada terhadap kejahatan siber yang makin nekat. Kali ini, nama Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Zulfadhli—yang akrab disapa Abang Samalanga—dicatut oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk melakukan aksi penipuan melalui aplikasi pesan WhatsApp.
Dalam menjalankan aksinya, pelaku menggunakan modus klasik berupa bukti transfer uang yang telah dimanipulasi (struk editan). Pelaku kemudian menghubungi korban secara langsung dan berdalih telah “salah kirim” uang, lalu mendesak korban untuk mentransfer balik dana tersebut ke rekening pelaku.
Menanggapi maraknya laporan tersebut, Sekretaris DPR Aceh, Khudri, mengonfirmasi bahwa pesan atau panggilan dari nomor tersebut murni merupakan tindakan penipuan. Ia menegaskan bahwa nomor WhatsApp yang digunakan oleh pelaku dipastikan bukan milik Ketua DPRA.
”Saya minta warga waspada dan melaporkan langsung kepada aparat penegak hukum atau mengonfirmasi kepada pihak kami jika ada pihak-pihak tertentu yang mengaku sebagai Ketua DPR Aceh atau pimpinan DPR Aceh lainnya,” ujar Khudri dalam keterangan resminya di Banda Aceh, Jumat (14/8/2026).
Panduan Mengantisipasi Modus Penipuan “Salah Transfer”:
Cek Mutasi Rekening: Jangan langsung percaya pada tangkapan layar (screenshot) bukti transfer. Selalu periksa riwayat transaksi masuk melalui aplikasi mobile banking atau ATM Anda secara langsung.
Abaikan Desakan Pelaku: Pelaku biasanya memanfaatkan kepanikan korban agar segera melakukan transfer balik tanpa memverifikasi data terlebih dahulu.
Konfirmasi Jalur Resmi: Jika pelaku mengatasnamakan pejabat publik atau instansi tertentu, segera hubungi kontak resmi lembaga terkait untuk memastikan kebenarannya.
Khudri menegaskan bahwa pencatutan nama pimpinan DPRA merupakan tindak pidana serius. Pihak Sekretariat DPR Aceh tidak tinggal diam dan sedang mengumpulkan bukti untuk melaporkan akun serta nomor WhatsApp terkait kepada kepolisian agar segera diproses secara hukum.
Guna mencegah munculnya korban baru, masyarakat diminta untuk lebih teliti dan tidak mudah percaya pada pesan bernada mendesak, terutama yang melibatkan klaim salah transfer atau permintaan sejumlah uang, ujar Khudri.(**)
Editor: Redaksi























