BANDA ACEH – Suasana penuh keakraban dan dialog terbuka mewarnai pertemuan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Komisi III, H. T. Ibrahim, S.T., M.M., bersama puluhan jurnalis dari berbagai media di Aceh. Acara bertajuk “Kopi Bareng” digelar di Kedai Kopi Tofik, Banda Aceh, Minggu pagi (2/8/2026).
Dalam suasana santai tanpa sekat protokoler, pertemuan ini menjadi ruang tukar pikiran yang hangat antara wakil rakyat dan insan pers, membahas isu pembangunan, aspirasi masyarakat, hingga tantangan dunia jurnalistik di era digital.
“Kita ingin membangun hubungan yang lebih dekat dengan teman-teman media. Pers adalah mitra strategis kami dalam menyampaikan informasi yang benar kepada masyarakat. Tanpa media, kerja-kerja kami di Senayan tidak akan sampai ke masyarakat Aceh,” ujar H. T. Ibrahim di sela-sela acara.
Hadir Tokoh dan Awak Media
Silaturahmi ini dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya HT Anwar Ibrahim, Azhari, Tarmilin Usman, Hamdan Budiman, Syarbaini Usman, dan Nurdin Syam. Kehadiran mereka menambah semarak diskusi.
Tak ketinggalan, puluhan awak media turut hadir. Mulai dari media daring, media cetak, yang selama ini aktif memberitakan isu-isu di Aceh.
Kebersamaan terlihat saat obrolan mengalir dari isu pembangunan, aspirasi masyarakat, hingga tantangan dunia pers di era digital saat ini.
Jembatan Aspirasi Rakyat
Dalam diskusinya, H. T. Ibrahim menekankan pentingnya peran media sebagai jembatan antara DPR RI dan masyarakat. Ia mengaku sering mendapatkan masukan berharga dari pemberitaan media lokal.
“Saya banyak belajar dari berita-berita kawan-kawan media. Dari situ saya tahu apa yang sebenarnya dirasakan masyarakat di lapangan. Nanti ini akan saya bawa ke rapat-rapat di DPR,” jelasnya.
Ia juga membuka ruang seluas-luasnya bagi jurnalis untuk mengkritisi dan memberi masukan. Menurutnya, kritik yang membangun justru akan membuat kinerja wakil rakyat semakin baik.
Apresiasi dari Insan Pers
Para jurnalis yang hadir menyambut baik inisiatif ini. Mereka menilai acara seperti “Kopi Bareng” perlu rutin digelar agar komunikasi tidak hanya terjadi saat ada kegiatan resmi atau peliputan.
“Kami mengapresiasi Pak Ibrahim yang mau duduk bareng, ngopi bareng, dan mendengar langsung. Ini bentuk penghargaan kepada insan pers,” kata salah satu jurnalis yang hadir.
Acara ditutup dengan foto bersama dan ramah tamah. Obrolan santai itu diharapkan menjadi awal dari sinergi yang lebih kuat antara DPR RI dan media di Aceh ke depan.
Dengan semangat keterbukaan seperti ini, diharapkan informasi dari pusat ke daerah, dan aspirasi dari daerah ke pusat, bisa mengalir lebih cepat dan akurat.(**)
Editor: Redaksi





















