BANDA ACEH – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Martini, S.Pd., M.H., resmi menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Garda Wanita (Garnita) Malahayati Partai NasDem Aceh. Pelantikan berlangsung di Tower NasDem Aceh, Banda Aceh, Kamis (15/10/2026).
Prosesi pelantikan dipimpin langsung oleh Ketua Umum Garnita Malahayati Partai NasDem, Andina Thresia Narang. Dalam kepengurusan baru ini, Martini didampingi Sutarmi sebagai Sekretaris dan Hj. Efiaty Z, S.E. sebagai Bendahara. Kegiatan ini berbarengan dengan pelantikan pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Garnita Malahayati se-Aceh.
Turut hadir Sekretaris DPW Partai NasDem Aceh Yunardi Natsir, Bendahara DPW Muhammad Furqan Firmandez, Wakil Ketua DPRA dari Fraksi NasDem Saifuddin Muhammad, serta Ketua Fraksi NasDem di DPRA Nurchalis.
*Perkuat Kaderisasi Perempuan Menuju Pemilu 2029*
Ketua Umum Garnita Malahayati NasDem, Andina Thresia Narang, menyampaikan bahwa Garnita memiliki tanggung jawab besar dalam mempersiapkan kader perempuan Partai NasDem untuk menghadapi kontestasi politik Pemilu 2029 mendatang.
“Partai NasDem memberikan ruang bagi perempuan untuk berkiprah dan tidak menempatkan perempuan sekadar sebagai pelengkap organisasi maupun untuk memenuhi persyaratan pencalonan,” ujar Andina.
Ia berharap Garnita Malahayati di Aceh dapat terus memperkuat konsolidasi dan kaderisasi agar semakin banyak perempuan yang siap menjadi pemimpin dan memperjuangkan kepentingan masyarakat melalui jalur politik.
*Warisan Perjuangan Perempuan Aceh Dihidupkan Kembali*
Sementara itu, Ketua Partai NasDem Aceh, Irsan Sosiawan, dalam sambutannya yang dibacakan M. Hatta Bulkaini, http://S.KD., menegaskan bahwa perempuan harus mengambil peran strategis sebagai pengambil keputusan, perumus gerakan, penggerak perubahan, sekaligus penjaga nilai-nilai kemanusiaan.
“Aceh memiliki sejarah panjang tentang keberanian dan kepemimpinan perempuan. Nama-nama seperti Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, serta tokoh perempuan Aceh lainnya menjadi bukti bahwa perempuan telah mengambil peran penting dalam perjuangan bangsa,” katanya.
Irsan menegaskan, nama besar Malahayati tidak boleh berhenti sebagai kebanggaan sejarah semata, melainkan harus menjadi karakter gerakan yang berani dalam bersikap, kuat dalam solidaritas, cerdas dalam bertindak, dan tulus dalam mengabdi. (**)
Editor: Redaksi






















